Belum Genap Setahun, SMAN 3 Kasongan Mulai Tunjukkan Kiprahnya di Tengah Masyarakat

KATINGAN, lintasfakta.net – Sebuah sekolah yang baru lahir tidak hanya dituntut membangun ruang belajar, tetapi juga membutuhkan proses untuk menemukan identitasnya. Hal itulah yang mulai dilakukan SMAN 3 Kasongan di tengah usianya yang masih sangat muda.

Sekolah yang berdiri pada 2026 tersebut mengambil bagian dalam Karnaval Desa Hampalit, Kabupaten Katingan, Rabu (19/8/2026). Kehadiran para siswa dalam kegiatan masyarakat itu menjadi salah satu langkah awal SMAN 3 Kasongan memperkenalkan diri sekaligus membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Tidak membawa kemewahan dalam penampilan, para siswa justru mengandalkan kreativitas. Mereka menghadirkan sejumlah kostum dan ornamen hasil karya sendiri dengan memanfaatkan material yang mudah ditemukan di sekitar.

Proses tersebut membuat keikutsertaan dalam karnaval tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ada pengalaman yang diperoleh siswa sejak tahap persiapan hingga tampil di hadapan masyarakat.

Mereka dituntut menentukan gagasan, membagi tugas, mengolah bahan, serta menyatukan hasil pekerjaan menjadi sebuah penampilan. Dari proses itu, kekompakan dan keberanian siswa ikut terbentuk.

Kepala SMAN 3 Kasongan, Oktawina, menilai keterlibatan siswa dalam kegiatan masyarakat menjadi bagian penting dari perjalanan sekolah yang baru dibangun.

“Semangat untuk belajar, berkarya, menjaga lingkungan, dan tumbuh bersama masyarakat Kabupaten Katingan menjadi bagian dari perjalanan SMAN 3 Kasongan sebagai sekolah baru,” ujar Oktawina.

Menurutnya, usia sekolah yang masih muda bukan menjadi penghalang bagi siswa untuk mendapatkan ruang dalam mengembangkan potensi. Justru melalui berbagai kegiatan di luar lingkungan sekolah, siswa memiliki kesempatan untuk belajar menerapkan kreativitas sekaligus membangun kepercayaan diri.

Dalam Karnaval Desa Hampalit, kreativitas itu salah satunya terlihat dari pemanfaatan limbah plastik dan kardus. Material yang sederhana diolah menjadi bagian dari kostum dan hiasan yang dikenakan para peserta.

Pilihan menggunakan barang bekas sekaligus memperkenalkan cara pandang bahwa sampah masih dapat memiliki nilai apabila dikelola dengan kreativitas. Pesan mengenai kepedulian terhadap lingkungan pun ikut dibawa dalam penampilan mereka.

Bagi SMAN 3 Kasongan, momen tersebut menjadi lebih dari sekadar keikutsertaan dalam sebuah karnaval. Ini merupakan langkah kecil untuk menunjukkan bahwa sekolah baru tersebut siap tumbuh bersama masyarakat.

Di tengah proses membangun fondasi sebagai satuan pendidikan baru, para siswa sudah mulai memperlihatkan bahwa identitas sekolah tidak hanya dibentuk melalui kegiatan belajar di ruang kelas, tetapi juga melalui keberanian untuk berkarya dan hadir di tengah masyarakat.

Ke depan, keterlibatan semacam itu diharapkan menjadi bagian dari perjalanan SMAN 3 Kasongan dalam membangun karakter siswa sekaligus memperkuat keberadaan sekolah sebagai bagian dari masyarakat Kabupaten Katingan.(zah/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *