Palangka Raya, lintasfakta.net – Kisah Nor Anisa Indriyani, remaja asal Desa Maliku, Kabupaten Pulang Pisau, tidak berhenti sebagai cerita yang viral di media sosial. Persoalan yang sempat membuat Nor ragu melanjutkan pendidikan tersebut langsung ditindaklanjuti Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo bahkan melakukan komunikasi langsung dengan Nor Anisa melalui video call yang terhubung melalui Kepala SMAN 1 Maliku Rachman Hakim, Kamis (30/7/2026). Dialog tersebut dilakukan untuk mengetahui secara langsung kondisi yang membuat Nor sempat tidak melanjutkan sekolah.
Dalam percakapan itu, Nor menjelaskan bahwa keinginannya masuk SMK sebelumnya terkendala persoalan transportasi. Ia tidak memiliki teman yang dapat ditumpangi menuju SMK, sedangkan untuk melanjutkan ke SMA terdapat teman yang bersedia memberikan tumpangan.
Mendengar kondisi tersebut, Reza memastikan persoalan itu tidak boleh membuat Nor kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan. Ia meminta Nor tetap sekolah dan tidak menjadikan keterbatasan ekonomi maupun kondisi lingkungan sebagai penghalang meraih cita-cita.
“Nor harus sekolah. Jangan sampai kondisi keuangan atau ekonomi keluarga membuat Nur tidak sekolah,” tegas Reza.
Ia juga menyampaikan pesan Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran mengenai pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Pesan Bapak Gubernur, pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk keluar dari kebodohan, keluar dari kemiskinan, dan keluar dari keterisolasian,” lanjutnya.
Respons tersebut kemudian berlanjut pada solusi yang lebih konkret. Disdik Kalteng telah melakukan pendataan terhadap Nor Anisa dan meminta keluarganya melakukan perubahan Kartu Keluarga dari Kalimantan Selatan menjadi Kalimantan Tengah.
Langkah tersebut diperlukan agar Nor dapat memperoleh Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS). Melalui kartu tersebut, Nor diharapkan dapat mengakses berbagai program bantuan pemerintah, termasuk sekolah gratis, sehingga persoalan biaya tidak lagi menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan.
“Kalau sudah mendapatkan Kartu Huma Betang, Nur bisa sekolah gratis, tidak ada sumbangan-sumbangan lagi. Fokus saja melanjutkan pendidikan dan belajar dengan sungguh-sungguh,” ujar Reza.
Tidak hanya pemerintah yang bergerak. SMAN 1 Maliku juga mengambil langkah nyata setelah mengetahui kisah Nor. Rachman Hakim bersama para guru mendatangi rumah Nor untuk memastikan kondisinya sekaligus menawarkan solusi agar remaja tersebut tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Pihak sekolah kemudian menyatakan kesiapan untuk menerima Nor dan mendampinginya hingga lulus. Langkah tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan pendidikan membutuhkan keterlibatan langsung satuan pendidikan di tengah masyarakat.
“Kami siap membantu Nur sampai lulus. Harapan kami, semua anak di Maliku minimal menyelesaikan pendidikan SMA, bahkan ke depan bisa melanjutkan hingga perguruan tinggi,” ungkap Rachman Hakim.
Komitmen SMAN 1 Maliku tersebut mendapat apresiasi dari Muhammad Reza Prabowo. Menurutnya, langkah sekolah mendatangi rumah Nor merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat sekaligus bagian dari upaya memastikan tidak ada anak yang kehilangan hak pendidikan.
“Apa yang disampaikan Bapak Gubernur Bapak H. Agustiar Sabran bukan sekadar omong-omong. Tidak boleh ada anak Kalimantan Tengah yang tidak bisa sekolah, tidak bisa kuliah karena kondisi ekonomi, tidak bisa berobat, ataupun tidak bisa makan. Pemerintah harus hadir di tengah masyarakat,” tegas Muhammad Reza Prabowo.
Kehadiran pemerintah juga ditunjukkan melalui dukungan terhadap lingkungan belajar di SMAN 1 Maliku. Reza menyebut sekolah tersebut telah mendapatkan berbagai fasilitas penunjang pendidikan, seperti papan tulis digital, internet Starlink, panel surya, dan perangkat pembelajaran digital.
Menurutnya, fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya Pemprov Kalteng menghadirkan layanan pendidikan berkualitas hingga ke daerah. Karena itu, tidak boleh ada anggapan bahwa anak-anak di wilayah seperti Maliku mendapatkan layanan pendidikan yang lebih rendah dibandingkan sekolah di perkotaan.
“Tidak ada istilah anak-anak di Maliku mendapatkan pelayanan pendidikan yang kurang baik. Gurunya luar biasa, fasilitasnya terus kita lengkapi. Tinggal semangat belajar yang harus terus dijaga,” kata Reza.
Ia juga berharap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat kembali menjangkau sekolah tersebut. Dukungan itu dinilai penting agar peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih nyaman tanpa harus terbebani persoalan kebutuhan makan selama berada di sekolah.
Kasus Nor Anisa pada akhirnya bukan hanya tentang seorang remaja yang sempat ragu melanjutkan sekolah. Lebih jauh, kisah tersebut memperlihatkan bagaimana informasi dari masyarakat dapat direspons menjadi pendataan, pendampingan, dan solusi pendidikan yang konkret.
Melalui sinergi Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Disdik Kalteng, sekolah, keluarga, dan masyarakat, jalan pendidikan Nor kini kembali terbuka. Kartu Huma Betang Sejahtera, pendampingan sekolah, serta dukungan fasilitas pendidikan menjadi bagian dari upaya memastikan cita-cita seorang anak tidak berhenti hanya karena keterbatasan.
Bagi Pemprov Kalteng, pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan bersekolah karena kondisi ekonomi. Pemerintah dan sekolah harus hadir mencari jalan keluar, sementara anak-anak diberikan ruang untuk kembali belajar dan menatap masa depan.(zah/red)
