Petak Itah, Inovasi SMAN 1 Kota Besi Bangun Ekosistem Belajar Berbasis Kearifan Lokal

Sampit, lintasfakta.netSMAN 1 Kota Besi terus mengembangkan inovasi pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta didik melalui Program “Petak Itah”. Program yang berbasis kearifan lokal dan potensi lingkungan sekitar tersebut didiseminasikan sebagai praktik baik untuk membangun ekosistem kolaboratif yang melibatkan sekolah, orang tua, masyarakat, dan dunia usaha.

Kegiatan diseminasi praktik baik Program “Petak Itah” digelar pada Kamis (23/7/2026) dan dipimpin langsung oleh Kepala SMAN 1 Kota Besi Indah Siswanti. Kegiatan tersebut turut dihadiri Koordinator Pengawas (Korwas) Rusnanie, Ketua MKKS SMA Kabupaten Kotawaringin Timur Kodarahim, Pengawas Pembina Febri Sugiyanto, para guru, tenaga administrasi sekolah, peserta didik, orang tua, serta perwakilan dari SMAN 1 Cempaga, SMAN 4 Sampit, dan SMAN 1 Kota Besi.

Program “Petak Itah” hadir dari upaya sekolah melihat potensi lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Berada di kawasan yang dikelilingi sejumlah perusahaan pengolahan rotan, SMAN 1 Kota Besi menjadikan kondisi tersebut sebagai peluang untuk menghadirkan proses pembelajaran yang lebih kontekstual, relevan, dan dekat dengan kehidupan nyata peserta didik.

Melalui program tersebut, sekolah telah membangun kemitraan dengan Kobes Rattan sebagai salah satu ruang belajar nyata bagi siswa. Peserta didik tidak hanya memperoleh pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dengan mengenal potensi ekonomi yang ada di lingkungan sekitar sekolah.

Kolaborasi juga diperkuat dengan melibatkan orang tua dan masyarakat sebagai mitra belajar. Salah satunya melalui kegiatan pelestarian budaya lokal berupa penyusunan Kamus Bahasa Sampit yang telah diterbitkan dalam bentuk cetak maupun digital.

Selain itu, Program Orang Tua Mengajar menjadi bagian penting dari ekosistem pembelajaran yang dibangun sekolah. Melalui program tersebut, orang tua dan masyarakat berbagi pengetahuan serta pengalaman kepada peserta didik mengenai proses pengolahan rotan, mulai dari pembersihan hingga pemanfaatannya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Pengawas Pembina SMAN 1 Kota Besi Febri Sugiyanto menilai, Program “Petak Itah” menjadi contoh praktik baik mengenai pentingnya kolaborasi dalam penyelenggaraan pendidikan.

Menurut Febri, sekolah tidak dapat berjalan sendiri dalam mendidik peserta didik. Kolaborasi dengan orang tua, masyarakat, dan dunia usaha diperlukan agar proses pembelajaran semakin bermakna dan mampu memberikan pengalaman nyata kepada siswa.

“Yang menarik dari Program ‘Petak Itah’ adalah bagaimana sekolah mampu melihat potensi lingkungan sekitar sebagai kekuatan pembelajaran. Orang tua dan masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi menjadi mitra belajar, sementara dunia usaha menjadi ruang belajar nyata bagi peserta didik,” ujar Febri Sugiyanto.

Ia menambahkan, pendekatan tersebut memungkinkan siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan, kecintaan terhadap budaya lokal, keterampilan sosial, kreativitas, serta kemampuan melihat peluang dari potensi yang ada di sekitarnya.

Hal tersebut, menurut Febri, sejalan dengan dimensi Profil Lulusan dalam Pembelajaran Mendalam, yang menekankan pentingnya pembentukan peserta didik secara utuh melalui pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Kota Besi Indah Siswanti menjelaskan, nama “Petak Itah” berasal dari bahasa Sampit yang berarti “Tanah Kita”.

Nama tersebut dipilih sebagai representasi filosofi program yang mengajak seluruh pihak untuk melihat lingkungan dan potensi lokal sebagai bagian dari sumber belajar.

“Program ini kami beri nama ‘Petak Itah’ yang berarti Tanah Kita. Filosofinya adalah bagaimana memanfaatkan lingkungan dan potensi terdekat sekolah agar menjadi bagian dari pembelajaran yang kontekstual,” tutur Indah Siswanti.

Menurut Indah, melalui Program “Petak Itah”, orang tua dan masyarakat diharapkan tidak lagi hanya berperan sebagai penerima informasi dari sekolah, tetapi dapat terlibat langsung sebagai mitra belajar yang menghadirkan pengalaman pendidikan yang lebih nyata dan bermakna bagi peserta didik.

Program tersebut sekaligus menjadi upaya SMAN 1 Kota Besi untuk memperkuat hubungan antara pembelajaran di sekolah dengan realitas kehidupan di lingkungan sekitar. Potensi budaya dan ekonomi lokal dipadukan dengan proses pendidikan sehingga siswa dapat memahami bahwa lingkungan tempat mereka tinggal juga memiliki banyak sumber pengetahuan dan peluang untuk dikembangkan.

Ke depan, SMAN 1 Kota Besi berharap Program “Petak Itah” dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam mengembangkan pembelajaran yang berakar pada kearifan lokal, sekaligus memperkuat kolaborasi antara satuan pendidikan dengan seluruh pemangku kepentingan.

Melalui ekosistem pembelajaran yang kolaboratif tersebut, sekolah berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berkarakter, kreatif, memiliki keterampilan sosial, peduli terhadap lingkungan, serta mencintai budaya daerahnya.(zah/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *